KETIKA Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel serta berbagai sasaran Amerika Serikat di Timur Tengah, satu pertanyaan menarik muncul: bagaimana mungkin negara yang selama puluhan tahun hidup di bawah embargo dan berbagai tekanan teknologi mampu membangun kemampuan seperti itu?
Konflik Iran dengan Amerika Serikat yang berlangsung sejak awal 2026 bahkan telah menguras sebagian besar persediaan sejumlah rudal presisi jarak jauh Amerika Serikat.
Jawabannya tidak hanya terletak pada industri pertahanan. Di balik drone, rudal, satelit dan teknologi militernya terdapat sesuatu yang lebih besar: pembangunan ekosistem ilmu pengetahuan.
Iran bukan satu-satunya negara Timur Tengah yang sedang membangun ekosistem semacam itu.
Di sisi lain Teluk Persia, Arab Saudi melakukan hal yang sama dengan cara yang sangat berbeda.
Jika Iran membangun sains dalam kondisi yang mendorongnya mengejar kemandirian teknologi, Saudi menggunakan kekayaan minyak untuk mempercepat pembangunan kapasitas pengetahuan.
Dua negara ini sedang mengalami revolusi saintifik. Tetapi mereka menempuh dua jalan yang berbeda.
Iran dan Revolusi Saintifik di Tengah Kepungan Embargo
Bila kita melihat bagaimana Iran mencapai kemajuan dengan membangun kemandirian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kita dapat melihat dalam buku Revolusi Saintifik Iran (2013) yang ditulis oleh Husain Heriyanto.
Dari buku ini kita bisa melihat bahwa revolusi saintifik Iran menjadi menarik karena perkembangan ilmu pengetahuan di negara itu tidak dapat dipisahkan dari sejarah politik dan geopolitiknya.
Hal ini dimulai dengan Revolusi Islam Iran 1979 yang menjatuhkan Shah Mohammad Reza Pahlevi dan mengubah arah negara.
Akibat hal ini Saddam Hussein yang merasa terancam kemudian melakukan invasi atas Iran dan memulai Perang Iran-Irak (1980–1988).
Ketika perang berlangsung, Iran menghadapi keterbatasan persenjataan dan teknologi, karena hampir semua kekuatan besar dunia mendukung Irak saat itu.
Setelah itu, berbagai sanksi dan embargo semakin mempersempit akses terhadap teknologi Barat.
Perang ini kemudian memberikan pelajaran jauh lebih keras: Iran tidak dapat selalu mengandalkan negara lain.Iran harus belajar membuat sendiri apa yang tidak dapat dibelinya.
Logika berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) inilah yang kemudian berkembang dari industri pertahanan ke berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Iran memperluas pendidikan tinggi, membangun pusat penelitian dan mendorong pengembangan teknologi strategis seperti bioteknologi, nanoteknologi, kedokteran, aerospace dan energi.
Hasilnya terlihat dari perkembangan publikasinya. Studi Stanford Iran 2040 Project yang menganalisis data Scopus hingga 2018 menemukan sekitar 437.000 publikasi ilmiah Iran selama dua dekade.
Jumlah publikasi tahunan meningkat sekitar lima puluh kali lipat, dari sekitar 1.000 artikel pada 1997 menjadi lebih dari 50.000 pada 2018.
Kontribusi Iran terhadap output ilmiah dunia juga meningkat dari sekitar 0,1 persen menjadi 2,6 persen.
Kemampuan itu tidak hanya menghasilkan artikel ilmiah. Iran mengembangkan teknologi kloning, stem cell, nanoteknologi dan bioteknologi.
Pada 2006, Royan Institute juga menjadi salah satu pusat penting perkembangan teknologi reproduksi dan penelitian embrio di Iran.
Karena itu, drone dan rudal Iran sebenarnya hanyalah bagian paling terlihat dari transformasi yang jauh lebih luas.
Di baliknya terdapat universitas, laboratorium, ilmuwan, insinyur dan lembaga penelitian yang dibangun selama puluhan tahun.
Iran membangun sains dalam kondisi yang memaksanya mengejar kemandirian.
Arab Saudi dan Revolusi Saintifik dengan Petrodollar
Arab Saudi juga tengah mengalami revolusi saintifik, meskipun transformasinya berlangsung lebih belakangan dibanding Iran.
Jika Iran membangun dunia riset dengan menekankan penguatan kapasitas domestik dalam kondisi keterbatasan, Arab Saudi mengambil jalan berbeda: menggunakan kekayaan minyak membangun infrastruktur riset sekaligus menarik talenta dari berbagai penjuru dunia.
Jika Iran harus bertanya bagaimana membuat teknologi sendiri karena tidak selalu dapat membelinya, Saudi memiliki pertanyaan lain: bagaimana menggunakan kekayaan minyak untuk membangun kapasitas pengetahuan secepat mungkin?
Salah satu jawabannya adalah King Abdullah University of Science and Technology atau KAUST.
KAUST didirikan pada masa Raja Abdullah dan resmi dibuka pada 2009 sebagai universitas riset pascasarjana yang berorientasi pada sains dan teknologi.
Sejak awal, universitas ini dibangun sebagai institusi internasional. KAUST kini mempertemukan lebih dari 120 kewarganegaraan dan mencatat sekitar 75 persen kolaborasi internasional dalam kegiatan risetnya.
Model tersebut didukung sumber daya yang besar. KAUST didirikan sebagai waqf dengan dana abadi untuk menopang keberlanjutan universitas dan risetnya.
Besarnya endowment KAUST sering diperkirakan sekitar 20 miliar dolar AS, menjadikannya salah satu universitas dengan basis dana abadi terbesar di dunia.
Hasilnya mulai terlihat dalam waktu relatif singkat. Pada 2026, KAUST masuk peringkat 48 dunia dalam THE Impact Rankings dari lebih dari 1.600 universitas di 130 negara dan teritori.
Di luar KAUST, Saudi juga mengembangkan King Fahd University of Petroleum and Minerals dan King Saud University sebagai pusat pendidikan dan penelitian.
Transformasi ini memperoleh momentum baru di bawah Muhammad bin Salman.
Jika Raja Abdullah meletakkan salah satu fondasi institusionalnya melalui KAUST, MBS menjadikan penelitian, pengembangan dan inovasi sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional melalui Saudi Vision 2030.
Pada 2022, ia menetapkan target agar investasi tahunan untuk riset, pengembangan dan inovasi mencapai 2,5 persen PDB pada 2040.
Pemerintah Saudi memperkirakan sektor tersebut dapat menambah sekitar 60 miliar riyal atau 16 miliar dolar AS terhadap ekonomi pada 2040 sekaligus menciptakan pekerjaan bernilai tinggi di bidang sains dan teknologi.
Saudi tidak ingin selamanya bergantung pada minyak. Mereka sedang berusaha mengubah kekayaan minyak menjadi modal pengetahuan, sains, teknologi dan inovasi.
Mereka sadar Science, Technology, Engineering, & Mathematics (STEM) adalah masa depan bangsa.
Dua Model Revolusi Saintifik, Satu Tujuan
Perbedaan Iran dan Arab Saudi pada akhirnya bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki universitas lebih baik atau menghasilkan publikasi lebih banyak. Keduanya mewakili dua model revolusi saintifik.
Iran adalah model kemandirian ilmiah. Ia tumbuh dari perang, embargo dan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Prinsip dasarnya sederhana: jika dunia tidak mau atau tidak dapat menjualnya kepada kita, maka kita harus belajar membuatnya sendiri.
Arab Saudi adalah model internasionalisasi ilmiah. Ia tumbuh dari kekayaan minyak dan keterbukaan terhadap dunia.
Prinsipnya juga sederhana: jika ilmuwan dan institusi terbaik dunia dapat ditarik datang ke Saudi, mengapa harus membangun semuanya dari nol?
Iran mengandalkan penguatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap dunia luar.
Saudi menggabungkan pembangunan kapasitas nasional dengan koneksi SDM global untuk mempercepatnya.
Yang satu tumbuh dari keterbatasan. Yang lain tumbuh dari kemampuan finansial.
Tetapi keduanya akhirnya menemukan kesimpulan yang sama: minyak tidak akan selamanya menjadi sumber kekuatan. Ilmu pengetahuanlah yang harus menjadi sumber kekuatan baru.
Di sinilah revolusi saintifik Iran dan Arab Saudi menjadi pelajaran menarik. Iran menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap teknologi tidak selalu mampu menghentikan perkembangan ketika sebuah negara memiliki sumber daya manusia dan kemauan untuk membangun kemampuan sendiri.
Saudi menunjukkan, kekayaan sumber daya alam dapat dikonversi menjadi kekuatan pengetahuan apabila negara bersedia menginvestasikannya secara serius.
Pada akhirnya, sebuah negara tidak menjadi maju hanya karena memiliki banyak universitas, laboratorium atau publikasi.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah pengetahuan itu mampu berubah menjadi teknologi, industri dan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Iran sedang membuktikan bahwa sebuah bangsa dapat menjadi mandiri karena dipaksa oleh keadaan.
Arab Saudi sedang mencoba membuktikan bahwa sebuah bangsa dapat menjadi mandiri karena memilih untuk berubah.
Dua jalan yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: menjadikan ilmu pengetahuan bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan sumber untuk kekuatan nasional.
Irsyad Mohammad
Kompas.com
12 Agustus 2026