KETIKA berbicara tentang Republik Islam Iran, kebanyakan orang membayangkan negara identik dengan Syiah, revolusi, dan perlawanan terhadap Barat serta Israel. Namun sedikit mengetahui, Ayatullah Ruhollah Khomeini pernah menyatakan dukungannya terhadap Esperanto, bahasa buatan diciptakan oleh dokter mata Yahudi asal Polandia, Dr. L.L. Zamenhof. Pada tahun-tahun awal Revolusi Islam, Esperanto bahkan sempat diajarkan di Hawzah Ilmiyah Qom, pusat pendidikan ulama Syiah terbesar di Iran, dan digunakan dalam sejumlah proyek penerbitan keagamaan. Mengapa pemimpin Revolusi Islam Iran dikenal keras terhadap Israel justru mendukung bahasa internasional yang diciptakan oleh seorang Yahudi? Dan mengapa bahasa itu sempat diajarkan di pusat pendidikan ulama Syiah terbesar di dunia?
Mimpi Zamenhof tentang Bahasa yang Netral
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu apa sebenarnya Esperanto dan mengapa bahasa ini pernah menarik perhatian berbagai kalangan yang sangat berbeda, mulai dari kaum humanis Eropa, aktivis perdamaian, komunitas Bahá'í, hingga para ulama revolusioner di Iran.
Ketika Zamenhof menerbitkan Unua Libro pada 1887—sebuah buku tata bahasa menandai kelahiran resmi Esperanto—ia tidak bermaksud menggantikan bahasa nasional mana pun. Ia justru menawarkan sebuah bahasa kedua yang netral bagi seluruh umat manusia. Menurutnya, hubungan antarbangsa tidak pernah berlangsung di medan yang setara. Bangsa bahasanya menjadi bahasa internasional hampir selalu memperoleh keuntungan politik, ekonomi, dan budaya yang lebih besar dibanding bangsa lain. Esperanto lahir sebagai upaya menciptakan ruang komunikasi yang lebih adil. Nama bahasa itu sendiri berasal dari nama pena Zamenhof, Doktoro Esperanto atau "sang pengharap", sebuah ungkapan mencerminkan harapannya akan dunia yang mampu berkomunikasi tanpa dominasi satu bangsa atas bangsa lainnya.
Gagasan inilah yang tampaknya menarik perhatian Imam Khomeini. Bagi pemimpin Revolusi Islam Iran itu, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa juga berkaitan dengan kekuasaan. Pada abad ke-20, bahasa Inggris berkembang menjadi bahasa utama diplomasi, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan komunikasi internasional. Di balik penyebarannya terdapat pengaruh politik dan ekonomi negara-negara berbahasa Inggris yang sangat besar. Tidak mengherankan bila Khomeini memandang dominasi bahasa Inggris sebagai bagian dari dominasi budaya dan politik serta imperialisme Barat yang selama ini ia kritik.
Sejumlah sumber menyebut, Imam Khomeini mendorong umat Islam mempelajari Esperanto sebagai bahasa komunikasi antarbangsa dan antaragama yang netral. Ia juga memuji Esperanto sebagai bahasa netral karena tidak menjadi bahasa ibu negara ataupun suku serta etnis mana pun di dunia.
Status bahasa Esperanto sebagai bahasa netral, diyakini dapat meningkatkan saling pengertian di antara masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Setelah mengusulkan Esperanto sebagai alternatif bahasa lebih netral dibanding bahasa Inggris, bahasa tersebut bahkan mulai diajarkan di seminari-seminari (Hawzah Ilmiyah) Qom. Di sinilah letak ironi yang menarik. Imam Khomeini tidak melihat bahasa Esperanto sebagai produk Barat yang harus ditolak. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai alat yang dapat membantu mengurangi ketergantungan dunia terhadap bahasa negara-negara besar.
Ketika Esperanto Masuk ke Qom
Pandangan tersebut menemukan wujud konkret pada tahun-tahun awal Republik Islam. Tak lama setelah revolusi 1979, terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Esperanto mulai dipersiapkan. Bahasa itu juga digunakan dalam sejumlah proyek penerbitan keagamaan dan diajarkan di lingkungan Hawzah Ilmiyah Qom, pusat pendidikan ulama Syiah yang menjadi jantung intelektual Republik Islam Iran.
Bagi banyak orang, fakta ini terdengar mengejutkan. Sulit membayangkan bahwa di kota simbol kebangkitan politik Islam Syiah, para pelajar agama pernah mempelajari bahasa internasional yang diciptakan oleh seorang Yahudi Eropa Timur.
Namun justru di situlah letak pelajaran pentingnya. Dalam konteks ini, yang dinilai bukan identitas penciptanya, melainkan kegunaan bahasa tersebut sebagai sarana komunikasi lintas bangsa.
Meskipun sempat memperoleh dukungan pada tahun-tahun awal Revolusi Islam, bahasa Esperanto tidak pernah berkembang menjadi bahasa internasional utama di Iran. Antusiasme terhadap bahasa tersebut perlahan meredup seiring berubahnya situasi politik dan sosial di dalam negeri.
Salah satu penyebabnya adalah munculnya kesadaran di kalangan otoritas Iran bahwa gerakan Esperanto memiliki hubungan historis yang cukup kuat dengan sebagian komunitas Bahá'í. Sejak awal abad ke-20, sejumlah tokoh Bahá'í memang mendukung gagasan mengenai adanya sebuah bahasa internasional pemersatu umat manusia dan melihat bahasa Esperanto sebagai sarana mempererat hubungan antarmanusia.
Persoalannya, setelah Revolusi Islam 1979, Bahá'í tidak diakui sebagai agama resmi di Iran dan komunitasnya menghadapi berbagai pembatasan.
Ketika keterkaitan historis antara Esperanto dan sebagian aktivis Bahá'í semakin dikenal, bahasa yang sebelumnya dipandang netral mulai memunculkan kecurigaan di mata sebagian kalangan.
Seiring menguatnya stigma tersebut, mempelajari Esperanto tidak lagi dipandang semata-mata sebagai aktivitas kebahasaan. Sebagian warga Iran khawatir bahwa keterlibatan dalam kursus atau organisasi Esperanto dapat membuat mereka dicurigai memiliki kedekatan dengan komunitas Bahá'í, bahkan dituduh sebagai penganut agama tersebut.
Kekhawatiran inilah yang perlahan mengurangi daya tarik Esperanto di ruang publik.
Pada awal dekade 1980-an, dukungan resmi terhadap bahasa itu pun mulai berkurang. Di sinilah paradoks kedua muncul. Bahasa yang semula dipandang sebagai alat untuk melawan dominasi global akhirnya tersandung oleh dinamika politik domestik.
Bahasa Esperanto Menolak Menghilang
Bahasa Inggris memang tetap menjadi bahasa dominan dalam diplomasi, bisnis, ilmu pengetahuan, dan teknologi dunia. Namun di Iran, kisah Esperanto ternyata tidak berakhir ketika dukungan negara mulai meredup pada awal 1980-an.
Di tengah berbagai pasang surut politik, komunitas Esperanto Iran tetap bertahan hingga hari ini. Organisasi-organisasi Esperanto masih aktif menyelenggarakan kegiatan, menerbitkan media, serta menjalin hubungan dengan komunitas Esperanto internasional.
Iran bahkan kerap disebut sebagai salah satu pusat gerakan Esperanto yang paling aktif di dunia Islam.
Barangkali di sinilah letak ironi terbesar dari kisah ini. Bahasa yang diciptakan oleh seorang dokter mata Yahudi dari Polandia pernah memperoleh dukungan dari pemimpin Revolusi Islam Iran, sempat diajarkan di Hawzah Ilmiyah Qom, kemudian menghadapi kecurigaan politik, tetapi tidak pernah benar-benar menghilang.
Bagi Zamenhof, bahasa Esperanto adalah harapan akan dunia yang mampu berkomunikasi melampaui batas bangsa, agama, dan ideologi. Sementara bagi Khomeini, bahasa itu pernah dipandang sebagai salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan dunia terhadap dominasi bahasa negara-negara besar.
Terlepas dari berhasil atau tidaknya cita-cita tersebut, keberlangsungan gerakan Esperanto di Iran menunjukkan bahwa gagasan tentang bahasa internasional yang lebih netral ternyata masih hidup hingga hari ini.
Di tengah revolusi, perang, sanksi ekonomi, dan berbagai perubahan politik selama puluhan tahun, Esperanto mungkin gagal menjadi bahasa dunia. Namun di Iran, bahasa itu berhasil melakukan sesuatu yang tidak kalah menarik: bertahan hidup. Dan mungkin justru di situlah letak keberhasilan terbesarnya.
Irsyad Mohammad
Kompas.com
17 Juli 2026